Inisiasi penyusunan strategic workforce planning harus didasari oleh 2 hal, yakni: Person to Job Matchdan Person to Organization Match. The person to job match adalah kerangka kerja yang menuntun organisasi untuk menyelaraskan karakteristik individual dengan jabatan sehingga dapat dicapai hasil yang diinginkan. Suatu jabatan, posisi, atau pekerjaan membutuhkan karakteristik tertentu seperti misalnya keterampilan interpersonal, kemampuan dalam Menyusun penganggaran, dan termasuk di dalamnya rewards sebagai balasan atas pemenuhan tanggung jawab individu bagi organisasi seperti gaji, sistam bonus atau insentif yang melekat pada jabatan atau pekerjaan tersebut. Kedua, dari sisi individu, dikarakteristikkan melalui tingkat kualifikasi yang diperlukan untuk menempati suatu posisi atau menduduki suatu jabatan, misalnya; tingkat Pendidikan, pengalaman kerja, dan kualifikasi lainnya, motivasi terkait motivasi ekstrinsik seperti adanya keinginan untuk berada di dalam system yang mengaitkan antara kompensasi yang diterima dengan kinerja yang dicapai (pay for performance system); ketiga, seberapa besar tingkat kesesuaian atau keselarasan antara karakteristik jabatan dengan karakteristik individu; keempat, konsekuensi yang menyertai apabila tercapai keselarasan atau kesesuaian tersebut. Konsep Person to Job Match sebenarnya menjadi jawaban atas permasalahan “not right man on the right place” atau “Wrong man in the wrong place” yang ditemukan sebagai salah satu tema permasalahan yang timbul di dalam penelitian ini. Workforce planning yang dikembangkan harus mampu menjawab persoalan ketidaktepatan ini melalui analisis Person to Job Match di dalam tahap inisiasi kebutuhan tenaga kerja dan di dalam tahap rekrutmen karyawan.
Konsep dasar kedua Ketika organisasi menyusun Strategic Workforce Planningadalah Person to Organization Match, yakni konsep yang menjelaskan bahwa di dalam proses mencari, mendapatkan, dan menempatkan seorang kandidat, organisasi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik individu dengan organisasi. Konsep ini lebih menyeluruh bila dibandingkan dengan konsep Person to Job Match.Di dalam konsep Person to Organization Match, selain kesesuaian dengan jabatan, pekerjaan, atau posisi yang ditempati, karakteristik individu harus sesuai dengan nilai-nilai organisasi (organizational values), tanggung jawab yang melekat pada jabatan yang akan ditempati (new job duties), terbukanya kemungkinan untuk menangani lebih dari satu pekerjaan (multiple jobs) yang boleh jadi akan terjadi di dalam perjalanan karirnya, dan kesesuaian dengan prediksi karakteristik jabatan di masa yang akan datang mengingat organisasi boleh jadi akan mengubah strategi dan strukturnya dalam menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Organisasi di dalam proses rekrutmennya harus memastikan bahwa kandidat atau Individu dengan pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skills), kemampuan (Abilities), dan karakteristik unik lainnya (Other Characteristics) harus sesuai dengan karakteristik organisasi. Apabila terjadi kesesuaian (Match) makaHuman Resource Outcomeyang diantaranya meliputi perasaan ketertarikan untuk bekerja, kinerja yang dihasilkan, retensi atau atau keputusan untuk tetap bekerja di dalam organisasi, tingkat kehadiran, tingkat kepuasan baik terhadap pekerjaan maupun tingkat kepuasan terhadap organisasi.

Share your opinion: